Anak Hilang

image

Source:pinerest

Seorang guru saya pernah bilang saya ini seperti anak hilang. Gak jelas mau ke mana tiba-tiba menghilang kemudian muncul lagi. Dan begitulah yang terjadi dengan kehidupan saya. Apalagi saat traveling.
Baru-baru ini saya janjian ketemuan dengan teman saya saat lagi di Jakarta. Dan Jakarta bagi saya adalah tempat asing berapa kali pun bolak-balik ke sini. Tiap kali naik angkot saya selalu bertanya sana-sini walaupun dah nanya supirnya. Takut hilang.
Kemarin saat di angkot saya ditemenin mbak-mbak yang juga bertujuan sama.
Mbak, ikut saya aja. Saya pun nurut-nurut aja. Yang sebenarnya gak bagus, kalau saya diculik mah saya yang salah ikut-ikut aja. Eh, malah dituntun pulak ama mbaknya. Diseberangin ke jalan seberangnya. Diajak nunggu tempat yang enak sampai teman saya datang. Saat pulang pun begitu, banyak yang membantu saya menemukan arah jalan pulang.
Muka saya saat di angkot emang tampang-tampang memelas.

Setahun belakangan ini pun dijalanin dengan keadaan benar-benar kayak anak hilang. Walaupun hidup di kampung halaman sendiri. Tapi, Allah emang baik ada aja caraNya menuntun saya menemukan siapa saya sebenarnya. Still on the half way sih, but I don’t mind being lost. I found every little thing on the way to put the pieces on the big picture of my life. Enjoy being a lost girl 😄❤🙌

Sisa-Sisa Cerita Lebaran

Setelah sembilan tahun, akhirnya bisa ramadhan bersama keluarga sebulan penuh. Biasanya puasa di kosan, lebaran di rumah orang atau lebaran di kosan. Tapi, malah merindukan lebaran di kosan sendiri.
Lebaran di rumah enak, makan enak, ketemuan teman dan keluarga tapi terlalu banyak drama.
Sesungguhnya drama-drama itu yang bikin kita makin tangguh.

*ini cuma tulisan numpang lewat*

Masa Depan

“Ingat,Pit, masa depan masih suci.”

Nasihat itu selalu dikatakan teman saya, Dian. Setiap saya meminta saran atau bertukar pikiran, diskusi hal remeh temeh, Dian selalu bilang masa depan masih suci. Jangan pernah membenci sesuatu.

Mungkin harus saya tulis agar saya percaya yang buruk sekarang kedepannya pasti akan lebih baik lagi. Ya, semua masih suci.

Warung Kehidupan

Hari ini saya menerima sebuah kabar sedih. Warung tempat saya makan dekat kosan sudah tutup. Bermula dari nama Warung Niki Echo berganti nama jadi Warung Nusantara, sudah 6 tahun menemani saya makan siang.

Tempat ini bukan sekedar warung biasa. Banyak kenangan indah dan sedih saya dan teman sekosan jalani kita ceritakan saat makan di sini.

Menunya berganti tiap tahun, tapi bagi anak Sekar Melati kami selalu dapet menu gratisan. Kue bikinan ibu, masakan rumah ibu, rujak atau apa saja yang dimasakin ibu. Bahkan ketika saya berlebaran sendiri saya pun lebaran di warung ini. Maka pemilik warung ini adalah keluarga dan sahabat baik kami sekosan.

Saya sangat menikmati sore saat makan di warung ini. Mbak Dini si pemilik warung kemudian menjadi sahabat baik saya. Saat saya makan sendiri, dia selalu menemani saya sambil mengobrol. Begitu juga anak-anaknya Adib dan Tiwi. Ketika saya datang dan saat mereka libur, mereka selalu menemani saya makan. Di warung inilah saya merasa punya keluarga lain saat merantau.

Tiwi biasanya akan memamerkan buku barunya, Adib dan bahasanya yang romantis selalu membuat saya betah berlama-lama di sini.

Mbak Dini kemudian bercerita perkembangan sekolah Tiwi dan Adib. Ngajarin saya origami, knitting (walau sampai sekarang ga bisa), diskusi parenting and relationship problems. Dan kemudian kami merangkai mimpi. Ingin ke sini dan ini itu banyak sekali.

Maka ketika menerima kabar warung ini tutup saya sungguh sedih. Berasa kehilangan rumah dan penghuninya. Walau sekarang saya jauh di Timur, saya berharap saat pulang ke Yogya saya masih bisa makan di warung mbak Dini.
Semoga mbak Dini bisa buka warung Coto Makassar dan Pisang Ijonya lagi di tempat lain, jadi kami masih bisa nostalgila.

Terima kasih soto ayamnya sudah mengisi perut saya bertahun-tahun takkan terlupakan. Dan pelajaran kehidupan di tiap obrolan saat makan.

Aku dan Surayah Pidi Baiq part 2

image

Sebulan yang lalu sebelum saya mudik, Allah mengabulkan doa saya dari bulan Mei saat saya pertama kali beli buku Surayah Pidi yang terbaru. Dilan. Bertemu kembali dengan surayah di Yogya dan buku Dilan ditandatangani.

Alhamdulillah senang banget bisa ketemu penulis nyentrik satu ini. Bener-bener bikin bahagia.

Oh mengenai Dilan, coba gitu ada cowok kayak Dilan yg jadi pacar sekaligus calon suami. Pasti romantis banget. Hihihii.

Kampung Halaman

image

Seorang teman pernah bilang, kita akan menemukan kampung halaman kita sendiri setelah kita dewasa nanti. Walau kata ayah Pidi Baiq kampung halaman sejatinya adalah kembali ke akhirat.
Dan saya memutuskan kampung halaman saya setelah dewasa adalah Yogyakarta.
Tempat lahir saya adalah Ternate. Dibesarkan berpindah-pindah pulau karena kerjaan babeh. Untuk itulah bagi saya Ternate hanya tempat untuk tinggal. Walau sebenarnya pemandangan di kota kecil ini sungguh luar biasa indah tapi hati tak nyaman dan tak terpaut di sini.
Sungguh bagi saya Ternate adalah tempat traveling yang asyik. Makanannya enak, tempatnya indah, tempat foto yg asyik. Tapi bagi Ternate mungkin saya juga adalah orang asing.

Yogya bagi saya adalah rumah hati. Tempat saya bisa menjadi diri saya sendiri. Walau saat ino raga di Ternatr tapi jiwa sepenuhnya nun jauh di Yogya.

Yogya adalah harapan. Entah harapan apa yang saya pupuk di sini. Mungkin saya harus beranjak sebentar dari kota ini untuk kemudian memanen rindu kelak saat kembali secepatnya, semoga.

Ya ampun, aku jatuh cinta berkali-kali dan patah hati berkali-kali dengan Yogya.

Ini hanya edisi kangen Yogya.

image

Nine Years

Yogyakarta…

Hampir sembilan tahun saya tinggal di sini. Dan sebentar lagi harus pulang ke rumah yang bagi saya cuma rumah bangunan. Karena rumah hati dan kampung halaman kedua sepenuhnya saya bangun di kota ini. Yogyakarta.

Sedih banget sih, tapi apa daya takdir memutuskan lain.

Semoga semua kisah baik maupun buruk bakal jadi pembelajaran hidup kedepannya.

Ah, taun depan semoga bisa balik sini lagi. Aamiin

The Big C

Image

The show follows teacher Cathy Jamison – a reserved, suburban wife and mother – who is diagnosed with melanoma. The realization of this forces her to really begin to live for the first time in her adult life. At first she chooses to keep her diagnosis from her family, behaving in ways they find puzzling and increasingly bizarre. She finds new freedom to express herself. As the show progresses, Cathy allows her family and some new friends to support her as she copes with her terminal diagnosis, and finds both humor and pathos in the many idiosyncratic relationships in her life. (source : Wikipedia)

The Big C salah satu serial yang paling sering aku nonton ulang. Cuma 4 season, ada 40 episode keseluruhannya. Ceritanya si Cathy Jamison ini didiagnosa kanker. Setelah ketahuan punya penyakit ini Cathy mutusin buat ngelakuin hal-hal yang ga pernah dia lakuin dalam hidupnya. Awalnya dia gak ngasih tau keluarganya. Suami dan anaknya heran saat dia pengen bikin kolam renang di halaman rumah mereka, yang akhirnya ga jadi karena masalah birokrasi. Yang bikin sering ditonton ulang adalah adegan saat dia bungkus banyak hadiah buat anaknya Adam. Masing-masing hadiah ditulis untuk ulang tahun keberapa. Untuk christmas, untuk hadiah kelulusan dan ditaruh di gudang sewaan. Saat semua keluarganya tahu kalau Cathy kena kanker dia banyak dibantu tapi juga bermasalah sama anaknya Adam yang beranjak remaja. Apalagi saat suaminya juga kena serangan jantung dan temannya Marlene bunuh diri, Cathy pengen ngajarin anaknya menerima kematian.

Kalau kubilang ini temanya dark comedy dan drama. Banyak kisah-kisah mengharukan tentang penerimaan tapi disajikan lucu. Paling sedih saat adegan Adam lulus SMA. Ini selalu bikin berurai air mata. Kolasenya Cathy di rumah sakit juga indah, berbentuk pohon.

Quotes:

Soulmate. Not only is it a cliche, it’s the reasons millions of women are sitting at home and single.

I don’t wanna feel better. I wanna be better

We have to do this before I get fat and you get all… cancer-y. 

Sean to Cathy: No matter how repulsed by you I am, you can’t deny our biological bond

You’re the yin to my yang, the ping to my pong, the normal to my crazy. Let’s be us together. Paul 

Cathy Jamison: Life is so precious and it’s way too f*#king short. So don’t delay the happy.

Cathy Jamison: Why can’t anything ever go the way it’s supposed to?
Lee: It did. Just didn’t go the way you wanted it to.

Marlene: I think God gives us problems so we can learn to deal with them, not so he can fix us.

Cathy Jamison: And I could do chemo, but I’d just be buying a little more time and it would mean a lot of people taking care of me and it’s just not my thing. You know what makes me feel better, though, if I’m being honest? It makes me feel better to think that we’re all dying. All of us. And when you have a kid, you expect that you’ll die before they do. I mean, even though you try not to think about it, at least you hope to God you do. So if I think about it that way… hey, I’m living the dream! I’m here all year! performing at stage four. Oh, come on, you got to give it up for me a little bit. It’s kind of funny. Death comedy.

Tuhan ‘kan Selalu Tepat Waktu

Mungkin kamu akan selalu bertanya, kenapa hal ini terjadi sekarang? Kenapa tidak nanti? Atau bahkan kenapa tidak dari dulu saja. Ya karena Tuhan tahu kapan kamu siap.

Belakangan ini banyak hal yang terjadi dalam perjalanan tahun ini.  Dari berita duka, perayaan nikah, berita yang membuat patah hati. Mungkin ini adalah tahun yang terberat. Tapi bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Jadi harus meyakinkan diri bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk mengetahui semua rahasia yang tersembunyi karena sebenarnya saya sudah siap dengan segala konskuensinya dan akan ada kemudahan-kemudahan di akhir tahun ini.

Semoga Allah mengobati luka hati ini walau harus meninggalkan bekas setidaknya jangan perih lagi.

Sudahlah ini cuma celoteh orang yang sampai sekarang ga bisa tidur.

Kolam Renang Pribadi “Sulamadaha”

ImageGambar di atas bagi saya dan Boncis teman saya adalah kolam renang pribadi. Dengan catatan datang saat pagi jam 6 sampai jam 8 pagi dan bukan saat hari Minggu.

Namanya Hol (saya tidak tahu tulisan sebenarnya, tapi kedengarannya seperti Hol) Sulamadaha. Jarak dari pantai Sulamadaha berjalan kaki mungkin sekitar 300an meter (atau kurang-lebih saya gak ngukur juga). Sulamadaha sendiri letaknya di Ternate. Merupakan tempat liburan favorit.

Selain airnya jernih dari Hol juga bisa melihat pemandangan gunung Gamalama dan Pulau Hiri yang indah. Hanya saja saya tidak bisa memotret gunung Gamalama dari sini.

Image

Setapak to the Hol

Sayangnya dengan ada speedboat atau banana boat membuat air di Hol tercemar dengan bensin. Rasanya agak-agak tak enak. Tapi tetap enak buat berenang karena airnya dingin. Juga banyak ikan-ikan hias dan terumbu karang. Bagi saya dan Boncis kami akan mengitari Hol ini dengan pelampung yang kalau dalam bahasa Ternate disebut Benen.

Image

Sinar Mentari Pagi

Image

Hol berupa ceruk ke dalam..

Image

View pulau Hiri dari Sulamadaha

Jangan salah sangka kalau saya bilang ini kolam pribadi tapi ternyata saat anda ke sana bakal banyak orang. Datanglah saat matahari terbit dan bukan waktu orang-orang berlibur maka bisa disebut kolam renang pribadi 😀

You’ll Never Walk Alone

Ini adalah keenam kalinya saya tidak pulang ke rumah untuk berlebaran dengan keluarga. Tiga diantaranya saya berlebaran sendiri di Yogya. Bagi teman-teman saya yang pasti mudik tiap tahun sering mepertanyakan pada saya mengapa saya jarang pulang. Bukannya tidak mau pulang kumpul bersama keluarga tapi jarak yang jauh dan biaya yang besar menjadi pertimbangan, dan beberapa hal lainnya.

Bagaimana rasanya lebaran sendiri? Biasa saja menurut saya yang sudah terbiasa. Kesepiankah? Sedikit. Yang hilang dari lebaran sendiri adalah rasa hangat saat berkumpul keluarga dan makanan enak. Selain dari itu semua terasa sama saja.

Bahkan saat berlebaran sendiri semua terasa lebih sederhana. Tak perlu membeli baju baru, walau saat di rumah pun saya tak pernah membeli baju baru. Tak repot memasak, karena hanya memasak untuk diri sendiri. Tak perlu bersih-bersih rumah, cuma bersihin kamar kos aja.

Kata Imam Asy-Syafi’iMerantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan”.

Benar katanya Imam Syafi’i tersebut, selama merantau saya tak pernah kehilangan kasih sayang keluarga dan sahabat. Selalu ada keluarga kedua, ketiga bahkan keempat di tempat rantau. Entah berapa banyak curahan kasih sayang yang saya dapatkan di ranah rantau. Walau memang beda dengan keluarga sendiri Allah mencukupkan saya dengan keluarga dan sahabat pengganti.

Mungkin orang mengira saya akan lebaran sendiri tak makan enak atau cuma di kos saja, nyatanya tetangga saya memanggil saya untuk makan siang bersama keluarganya, dan saat pulang dibekali banyak makanan cukup buat besok. Bahkan banyak teman yang bertandang ke kos. Sungguh Allah baik sekali.

Jadi itulah, walau berlebaran sendiri, kita tak pernah benar-benar sendirian. Selalu akan ada yang datang entah dari mana dan menemani kita. Jadi mari nikmati lebaran di ranah rantau.

 

Eid Mubarak…

(I)buku

Kalau ada orang yang paling berpengaruh pada kita yang bisa mengenal huruf sejak kecil pastilah Ibu orang itu. Ibu jugalah orang yang akan membuat kita mencintai kata demi kata. Ibu adalah buku pertama yang kita baca.

Begitu juga ibu saya. Kegemaran membaca sedari kecil semua karena dukungan dari ibu. Walau ibu tak pernah mau membelikan saya buku selain buku pelajaran dan majalah anak-anak. Meski cuma membelikan majalah anak-anak tiap minggu, sesungguhnya ibu sedang melatih saya untuk senang membaca.

Bagi ibu saya tak ada guna membaca selain buku pelajaran. Tapi diam-diam saya selalu membaca buku lain di perpustakaan sekolah yang usang dan berdebu. Atau juga meminjam buku tetangga saya yang ibunya selalu rajin membeli banyak buku.

Tak banyak buku yang saya baca waktu kecil, karena lebih banyak tinggal di pedalaman hutan akses buku sangat sulit. Toko buku tak ada. Di kota kecilnnya pun toko buku tak menarik dan mahal buku-bukunya. Dan ibu semakin tak berniat membelikan buku. Jadinya mengumpulkan uang jajan sendiri untuk beli buku. Dan setiap beli buku baru pasti diomelin ibu.

Tapi suatu waktu saat ibu ke luar kota yang punya toko buku lebih besar, ibu mau membelikan buku buat saya. Sambil menelpon dari toko buku karena kebingungan banyak buku yang saya pesan dan tak tahu di mana letak buku-buku tersebut. Ibu pulang dengan omelan panjangnya, buku-bukumu berat. Ibu tetaplah ibu dengan omelannya malah membuat saya makin rajin baca.

Bagi ibu, perempuan harus lebih banyak beli baju daripada buku. Sayangnya saya gak suka belanja baju. Uang jajan habis buat beli buku.

Saat saya pergi dari rumah dan meninggalkan buku-buku saya, ibu yang tinggal sendiri tak sempat merawat buku-buku saya yang akhirnya dimakan rayap. Sedih, tapi ibu masih menyelamatkan sisa-sisa buku saya dan menyimpannya dengan rapi. Saat pulang hal pertama yang ibu kabari adalah buku-buku saya.

Itulah ibu walau tak suka saya banyak baca dan beli buku masih mau menyelamtkan buku-buku saya. Ibu saya membuat saya lebih mencintai buku tapi ibu tak sadar.

Dan ibu adalah buku pertama yang saya baca dan takkan pernah habis saya baca, dan takkan pernah saya akan memahami ibu tapi tetap saya cinta dan saya nikmati.

Escape to Maitara

Image

Beberapa bulan lalu saat saya pulang ke Ternate saya sudah sangat berniat untuk menjelajah beberapa pulau-pulau dekat Ternate. Apa daya karena pernikahan adik saya jadinya malah repot di rumah. Dan tidak diperbolehkan ke mana-mana oleh keluarga saya. Apalagi nyebrang pulau.

Tapi pada akhirnya beberapa minggu setelah acara selesai saya mengajak adik-adik saya untuk melarikan diri dari rumah dan nyebrang ke pulau Maitara yang bisa ditempuh 15-20 menit dengan kapal motor. Kalau sudah di rumah, sangat susah untuk mengantongi ijin jalan-jalan. Apalagi ke pulau kecil seperti ini. Mungkin itulah yang membuat saya tidak betah di rumah. Dan memang saat ke Maitara ini kami tidak meminta ijin hanya kabur dan pamit ke pasar.

Berempat dengan tiga adik saya yang lainnya kami ke pelabuhan Bastiong tempat kapal motor menuju Maitara biasanya berlabuh. Biasanya kapal akan sangat ramai kalau pagi dan bisa dapat harga murah 5000 rupiah sekali jalan. Berhubung kami berangkatnya siang maka disewalah kapal motor tersebut dengan patungan dan minta untuk di jemput kembali sorenya.

Maitara hanya pulau kecil berisi sedikit penduduk. Dengan mayoritas mata pencahariannya nelayan dan berkebun. Awalanya saya niat untuk berenang tapi panasnya yang waow jadi mundur deh.

Sesampainya di sana kami mencari warung untuk membeli minum, Makanannya sih bawa dari rumah dan sembunyi-sembunyi tapi saking semangatnya kabur malah lupa beli minum. Dan sangat disarankan kalau ke sini bawalah minum dari rumah, susahnya minta ampun cari warung. Cuma ada satu warung yang buka.

Sepanjang jalan menuju warung itulah saya melihat warga-warga di sini lebih banyak melakukan aktifitasnya di luar rumah. Berkumpul ramai-ramai dengan para tetangga dan bekerja bakti membangun rumah warga. Bahkan memasak ramai-ramai untuk acara kumpul-kumpul tersebut.

Tidak jauh dari warung banyak terlihat gerombolan anak-anak kecil yang menari. Kami dekati mereka dan nanya-nanya apa yang mereka lakukan. Ternyata anak-anak di sini banyak yang main di luar rumah, menari untuk mengisi waktu. Banyak tarian daerah yang mereka pelajari. Hp yang bagi anak-anak zaman sekarang buat facebookan ataupun twitteran bagi mereka sebagai penyetel lagu pengiring untuk belajar menari. Anak-anak ini tidak seperti adik saya yang hanya di rumah dan main palystation. Permainan tradisional masih mereka mainkan. Tidak tergerus oleh zaman yang canggih. Kehidupan di Maitara sangat sederhana. Jauh dari hingar-bingar gemerlap dunia dan gaya hidup hedon.

Dari Maitara yang sunyi memandang pulau Ternate yang padat dan saat malam mungkin amat gemerlap lampu-lampu penghias kota. Waktu berjalan sangat lambat di pulau ini.

Sangat disayangkan saat ke sini belum bisa menjelajah semua sudut-sudut. Hanya sekedar piknik dan menikmati kesunyian di pulau ini yang amat tenang. Bahwaa hidup bila terlalu berlari mengejar duniawi lupa melihat yang sunyi.

Titik Nol

Image

Buku ini terletak di salah satu rak toko buku dan berusaha memanggil-manggil saya untuk meliriknya. Covernya yang indah memang membuat tertarik. Pada awalnya saya malas mau membaca buku-buku perjalanan yang biasanya cuma mengisi informasi-informasi tempat, harga, budget tempat yang dikunjungi, informatif tapi belum perlu buku perjalanan itu karena belum mau pergi ke mana-mana. Tapi buku ini berbeda. Sebuah kalimat “Makna Sebuah Perjalanan” mampu membuat saya melipir dan melirik buku ini. Dan pada akhirnya jatuh cinta.

Dari dulu saya sangat ingin menjadi petualang atau pejalan kaki. Tapi saya tak pernah beranjak ke mana-mana. Hanya berkutat di tempat yang itu-itu saja. Dan buku ini membawa saya lebih jauh tentang sebuah makna sebuah perjalanan daripada hanya mengunjungi sebuah tempat selama beberapa hari dan mengunjungi spot-spot yang terkenal. Bukan perjalanan impian yang semuanya serba mudah, tapi tak ada yang mudah dalam mewujudkan mimpi. Kerasnya hidup di jalanan menuju tempat-tempat impian membuat penulis melihat lebih dalam, merasai dan memaknai tiap langkah daripada hanya catatan-catatan berisi informasi suatu tempat. Mengenal lebih banyak orang dan budaya, menyelami cara hidup di tiap tempat yang di singgahi. Sungguh menarik membaca pengalaman penulis di tiap tempat.

Diselingi dengan kisah keluarga yang mengharukan, penulis juga membuat sadar bahwa kadang dalam perjalanan kita harus pulang. Ada keluarga. Tapi keluarga yang selalu memberi dukungan sangat diperlukan agar bisa tetap melangkah. Kisah tentang ibunya yang berjuang melawan sakit membuat tersedu-sedu.

Yang pasti ini adalah salah satu buku yang membuat saya berlama-lama membaca tiap halamannya karena sayang kalau petualangan akan segera berakhir. Membuat saya berpikir dalam kalimat-kalimatnya yang dalam. Yang pasti sangat direkomendasikan untuk dibaca.

The Way “El Camino”

The Way "El Camino"

The Way “El Camino”

Title : The Way

Director : Emilio Estevez

Writers : Emilio Estevez (written for the screen by), Jack Hitt (book)

Casts: Martin Sheen, Emilio Estevez, Deborah Kara Unger…

Tagline : Life is to big to walk it alone

***** 5 bintang deh kukasih

Tom seorang dokter yang sukses selalu berkutat dengan pasiennya, kebalikan dengan anaknya Daniel yang sering melakukan perjalanan ke belahan dunia lainnya membuat hubungan mereka sebagai ayah dan anak agak renggang.

Sampai suatu ketika Tom mendapatkan kabar tentang kematian Daniel di Prancis saat Daniel melakukan perjalanan ke El Camino de Santiago. Tom akhirnya melakukan perjalanan untuk mengambil jasad anaknya, namun akhirnya dia memutuskan untuk mengremasi anaknya dan melanjutkan perjalanan suci yang direncanakan anaknya.

Perjalanan Tom dari Prancis ke Spanyol dilaluinya dengan jalan kaki. Disepanjang perjalanan Tom bertemu dengan pengunjung lain yang melakukan perjalanan ke Camino de Santiago. Disepanjang perjalanan itu pula Tom menabur abu si Daniel di tiap tempat yang dia singgahi. Begitulah cara Tom mengatasi kesedihannya.

Tom kemudian bertemu dengan Sarah, Joost, Jack yang kemudian menemani perjalananya. Awalnya Tom tidak mau bergabung dengan mereka tapi pada akhirnya mereka bersama-sama melanjutkan perjalanannya. Ternyata masing-masing punya alasan tersendiri melakukan perjalanan tersebut. Mulai dari perceraian, writer block, ingin kurus. Semua mereka tumpahkan dalam perjalanan.

Film ini benar-benar patut untuk ditonton, khususnya yang suka dengan tema perjalanan. Salah satu yang paling mengharukan. Dengan tagline “Life is to big to walk it alone” membuat saya sadar, memang seperti itulah perjalanan, sudah seharusnya kita mendapatkan kawan dalam tiap perjalanan. Begitupun dalam hidup. Rasanya terlalu sepi untuk hidup sendirian dalam keegoisan.

Dan pengen banget suatu saat nanti melakukan perjalanan ini, walau seorang muslim tapi kayaknya seru juga.

Hotel on the Corner of Bitter and Sweet

Penulis : Jamie Ford
Halaman : 398 Halaman
Harga   : 58000
Penerbit: Matahati

“Berapa lama kau akan menungguku Henry?”
“Selama yang dibutuhkan…”
“Bagaimana kalau aku masih tetap di sini sampai tua dan ubanan –“
“Kalau begitu aku akan membawakanmu tongkat”

Henry Lee tua merindukan istrinya Ethel yang baru meninggal enam bulan lalu. Membuat dia berkeliaran di kotanya dan berdiri kembali di depan Hotel Panama yang menarik dia ke masa lalu bersama Keiko kecil si gadis Jepang.
Henry adalah warga negara Amerika keturunan China, sedangkan Keiko keturunan Jepang yang juga berwarga negara Amerika. Persahabatan mereka berdua tidaklah lazim saat masa perang tahun 1942. Saat itulah Henry pertama kali bertemu dengan Keiko si gadis Jepang di sekolah.
Diskriminasi yang lazim terjadi membuat hubungan keduanya semakin erat dan menimbulkan benih-benih cinta sampai mereka remaja. Berdua mereka menciptakan kenangan yang tidak biasa untuk anak seumur mereka. Namun pada akhirnya bisakah kisah mereka berlanjut?

Sebuah hotel bukan cuma membangkitkan kenangan Henry Lee akan Keiko tapi pencariannya terhadap jazz, kerinduan pada sahabatnya yang senantiasa bermain saxophone di dekat kompleks rumahnya. Sejarah perang yang membuat mereka akhirnya terpisah karena perbedaan ras dan perlakuan. Bukan kisah cinta yang menye-menye menurut saya walau saya rada-rada tidak percaya Henry bisa mengejar Keiko ke kamp pengungsian. Kata orang atas nama cinta apa sih yang gak. Tapi semua dikisahkan dengan alami. Tak ada rasa bosan walau disisipkan sejarah. Perjalanan Henry mencari kembali puing-puing kehidupannya membuat dia dekat kembali dengan anaknya Marty. Ini buku yang mengharukan menurut saya. Ah seandainya benar ada yang menunggu kita bahkan sampai tua pun.Image