Nenek dan Rempah-Rempahnya

Beberapa hari lalu nenek saya berpulang. Sehari sebelum coma, nenek saya menelpon adik saya memintanya untuk mengirimkan rempah-rempah dari Ternate. Itulah permintaan terakhir nenek saya.

Tinggal lama di Jakarta tidak membuat nenek saya meninggalkan rempah-rempah khas Ternate saat memasak. Setiap ada keluarga yang datang dari Tidore maupun Ternate akan membawakan nenek saya rempah-rempah dari sana. Jika tidak, adik saya akan mengirimkannya.

“Wi, belikan nenek; Ikan Fufu, Teh Naga, Lemon Cui, Ikan Tore(Roa), Kayu Manis, Gula Merah, Kenari juga jangan lupa” begitu pintanya pada adik saya.

Bahkan teh pun nenek saya akan memesannya dari sana. Maklum, Teh Naga tidak didistribusikan di Jakarta. Menantunya pernah bertanya pada nenek saya, “Kenapa harus beli kayu manis dan gula merah dari Ternate?

“Karena beda rasanya”

Suatu hari nenek saya cerita bahwa gula merahnya habis diambil saudaranya dan itu membuat nenek saya marah. Karena disayang-sayang dan irit. Gula merah dari Ternate  dibungkus dengan daun Woka. Rasanya beda dengan gula jawa. Adik saya pernah membawakan gula merah seberat 5kg untuk nenek saya saat ke Jakarta.

Setelah bertahun-tahun merantau di Jakarta, nenek saya tidak pernah melupakan rasa dari tanah kelahirannya. Sejauh mana pun pergi, lidak takkan bisa berbohong. Rasa di lidah meninggalkan kenangan di hati. Rindu kampung halamanlah yang membuat nenek tak bisa lepas dari rempah-rempahnya. Tak pulang pun tak apa yang penting ada aroma dalam rempah yang dimasaknya.

Nenek sudah pergi. Tak ada lagi pesanan rempah-rempah yang biasa dipintanya. Saat-saat sakit terakhir pun masih memikirkan akan bisa menikmati makanan dari Ternate. Dan saya yang sering ke rumah nenek juga takkan pernah lagi merasakan masakan nenek.

Selamat jalan nenekku sayang…

*In memoriam of Nene Yama

 

May Day!

“There are far too many silent sufferers.  Not because they don’t yearn to reach out, but because they’ve tried and found no one who cares.” 
Richelle E. Goodrich, Smile Anyway

 

Bukanlah hal yang mudah untuk mengatakan apa yang kita alami apalagi mengenai  keluarga. Keluarga yang seharusnya menjadi pelindung bisa menjadi bumerang dan mengubur kita dalam kegelapan. Dengan alasan cinta, terkadang keluarga lebih banyak saling menyakiti.

Bila kita sadar kemungkinan orang-orang terdekat kita sedang berjuang melawan kekerasan yang terjadi di lingkungannya. Baik itu berupa kekerasan fisik, verbal, maupun emosional. Hanya saja, mereka tak bisa meminta pertolongan. Atau mungkin mereka sudah memberikan sinyal dan kita abai terhadap sinyal itu.

Suatu hari saya melihat bekas luka sayatan di pergelangan tangan orang terdekat saya. Setelah beberapa tahun saya tak bertemu dengannya, hal ini membuat saya terpukul. Saya yang seharusnya menyadarinya ternyata abai.

Di lain waktu, seseorang yang saya kenal ditampar, ditendang, dan dijambak oleh ibunya sendiri. Dia menerimanya dan merasa dia pantas menerimanya. Kasih sayang ibu bisa membawa kita ke surga, tapi kasih sayangnya juga bisa membuat kita ke neraka. Dan dia tak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Sebuah sandal mendarat di kepala saya ketika mencoba melindungi teman saya dari pasangannya yang melakukan kekerasan fisik. Butuh waktu lama bagi dia untuk melepaskan pasangannya dengan alasan masih cinta.

Banyak bentuk kasih sayang dan cinta, tapi kekerasan tetaplah kekerasan apa pun bentuknya. Kekerasan bukan cara menyampaikan rasa sayang.

Kadang kita tahu tapi kita tak bisa berbuat apa-apa. Menolong diri sendiri sebagai korban dengan berbicara mengenai perlakuan yang diterima tak segampang menjentikkan jari. Menjadi pendengar bagi korban adalah selemah-lemahnya yang bisa kita lakukan bagi orang-orang yang mau membagi ceritanya.

 

 

 

 

Tiga Puluh

Tiga belas yang lalu. Rok abu-abu bergemulai diterpa angin. Wajah mulus tanpa keriput, bibir merah merona merekah menebar pesona. Langkah kaki bagai kucing menari berkelok-kelok di atas panggung. Inilah dunia yang dipijak tanpa rasa khawatir.

Tiga belas yang lalu. Dia merasa semua akan baik-baik saja. Masa depan akan baik-baik saja.

Tiga belas kemudian. Keriput di ujung mata, keriput di garis senyum, keriput di dahi. Bibir kering dan menghitam setelah mengepul tembakau berhari-hari. Langkah kaki terlalu mencintai gravitasi, berat hendak diangkat melangkah ke depan, dan pikiran yang kosong.

Sialan, batinnya.

Apa yang dilakukannya pada tiga belas berselang? Tidur, makan, merokok, minum, membaca, pergi, pulang, pergi lagi, bertamu, dikunjungi, duduk di sudut antara lemari dan kamar mandi, meracau, lari, berjalan, menonton, mencaci, menulis…. Masih banyak lagi daftar kegiatan yang lain belum ditulisnya atau dia bahkan tak punya kegiatan hidup lainnya. Dia masih mencoba mengingat-ingat hidupnya.

Selama tiga belas berselang, dia berhenti hidup layak!

Selama tiga belas berselang, pertanyaan hidup tak dia temukan jawabannya.

Tiga belas kemudian, tiga puluh.

Dia terlambat.

Restart.

Tapi, dia tetap terlambat. Tiga belas yang lalu, telah berlalu.

Sekarang, tiga puluh.

Mungkin, dia bisa mengulang di tiga puluh satu. Untuk hidup dan jawaban pertanyaan yang lebih baik.

Mungkin juga dia akan mati!

Nona Manis Berkumis

Seberapa sering kamu mendapatkan komentar untuk bentuk tubuhmu? Ataupun bentuk fisik yang lain? Atau bisa jadi dengan warna kulitmu? Saya rasa tidak perlu dibandingkan seberapa sering kita dapat perlakuan ataupun komentar pedas yang istilahnya sekarang lebih dikenal dengan “Body Shaming” , tapi sepertinya banyak yang punya pengalaman seperti ini.

“Ih cewek kok kumisan, mbak?”

“Kamu keturunan monyet ya, banyak bulunya!”

“Ih geli saya liat kamu banyak bulunya?”

“Nafsumu tinggi ya, cewek berbulu tinggi nafsunya”

Sebelum mengerti tentang “body shaming” yang sedang gencar-gencarnya diomongin saya banyak mendapat komentar dari ejekan hingga berbau pelecehan seksual. Dan hal ini telah saya dapatkan dari saya SD hingga sekarang. Ketiga komentar pertama paling banyak saya dapatkan saat usia sekolah saya. Dan komentar terakhir adalah yang paling sering saya dapatkan saat saya kuliah hingga usia dewasa. Masih ada komentar lainnya yang tak enak ditulis.

Bagaimana saya menanggapinya?

Ketika masih anak-anak, saya sering menangis di sekolah. Usia SD bagi saya tidak menyenangkan karena saya harus pindah-pindah sekolah dan kejadian yang sama akan berulang di sekolah yang baru. Bisa dibilang ketika SD saya tidak banyak bergaul karena tidak percaya diri dengan banyaknya rambut di sekujur tubuh.

Namun, menjelang remaja saya berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri. Tentu saja dengan waktu yang lama. Menerima kenyataan bahwa bentuk tubuh saya begitu adanya. Ejekan teman-teman tak lagi saya tanggapi atau saya balas dengan candaan. Walau kadang saat badai hormon saya bisa kesal sendiri.

Menerima diri sendiri adalah proses yang tidak mudah. Komentar orang lain kadang membuat kita membenci diri sendiri. Tapi rugilah karena orang lain tidak mengenal kita dengan baik. Orang-orang yang berkomentar kebanyakan bukan teman dekat. Saya sering dikomentari oleh bapak-bapak tak jelas, anak kecil yang penasaran, kakak kelas yang culas mulutnya. Maka, diterima saja komentar-komentar itu tanpa dimasukkan ke hati.

Hanya saja, komentar yang berbau-bau pelecehan seksual yang sering membuat saya terkejut sampai sekarang. Berat untuk membalas komentar “sekuhara”. Saya masih tidak bisa menerima komentar ini, dan juga tidak membalas. Diam dan pergi masih menjadi solusi. Kalau mau marah pun percuma. Mungkin dengan menulis ini menjadi salah satu cara agar melawan yang selemah-lemahnya. Bahwa tidak baik melakukan body shaming yang menjurus ke sekuhara.

Kita kadang terkejut dengan komentar orang tentang betuk fisik kita tapi pada akhirnya apakah kita menerima bentuk fisik kitalah yang lebih penting daripada komentar-komentar jahat orang lain terkecuali komentar sekuhara, jangan pernah mengganggap ini hal yang sepele.

Sacrifice in Travelling

“Dia mungkin bukan teman perjalanan yang baik, tapi tak berarti dia bukan teman yang baik.” 

Begitulah nasihat seseorang kepada saya. Ada dua hal yang dikurbankan dalam perjalanan kali ini. Hal pertama, kurban perasaan, yang kedua adalah merelakan kepergian anggota keluarga saat dalam perjalanan.

Bukan hal gampang melakukan perjalanan dengan seseorang yang asing kemudian menyimpulkan dia bukanlah teman perjalanan yang baik. Tetapi, lebih susah lagi melakukan perjalanan dengan orang terdekat dan mengamini bahwa mereka bukanlah teman perjalanan yang baik.

Ketika bersama orang asing masih bisa memaklumi dan mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal bersifat emosional sambil menganalisis sifat dan karakter orang tersebut dengan sedikit nge-dumel dalam hati. Namun, bersama orang terdekat perlu kurban perasaan.

Di kehidupan sehari-hari orang yang kita kenal mungkin beda saat perjalanan. Saat perjalanan terujilah segala sifat dan karakter di bawah tekanan dan keletihan. Dengan orang yang dikenal kita akan mengurbankan ego dan perasaan kita agar sisa dan sesudah perjalanan tetap terjaga kedamaian. Karena pada akhirnya dengan orang yang kita kenal akan tetap terjalin hubungan sesudah perjalanan. Tapi, sayangnya kali ini saya gagal mengurbankan ego saya sehingga terjadi konflik.

Pelajaran berharganya adalah saya semakin tahu bahwa orang tersebut tak bisa berjalan bersama lebih jauh lagi. Cukuplah bertemu tanpa melakukan perjalanan.

Hal lain yang harus direlakan dalam perjalanan ini adalah melepaskan kepergian seorang anggota keluarga. Saat lagi asyik bersenang-senang sebuah kabar buruk membuat saya tertampar. Saya tahu bahwa akan ada yang selalu ditinggalkan ketika pergi jauh. Merelakan tidak melakukan perpisahan dengan yang pergi lebih jauh lagi walau ada semacam penyesalan. Pada akhirnya hanya bisa menerima keadaan.

Which way to go?
Left or Right?

Mungkin banyak hal lain yang dikurbankan dalam melakukan perjalanan. Kita bertemu orang-orang baru, tapi kita juga meninggalkan orang-orang dekat kita, atau kita yang ditinggalkan. Kita pergi ke tempat baru, tapi kita meninggalkan kenyamanan di rumah kita. Selalu ada yang kita dapatkan dan ada yang harus dilepaskan dari tiap perjalanan. Tinggal memilih mau pergi atau tidak. Yang manapun selalu ada hal-hal dikurbankan dalam hidup.

 

*Catatan perjalanan Eid-Adha and In Memoriam of Ma’ Emi

 

 

 

Nyawang Candragrahana

Akhir Juli lalu tepatnya tanggal 28 terjadi gerhana bulan total. Jogja Astro Club salah satu komunitas astronomi di Jogja mengadakan Kemah Nyawang Candragrahana. Nyawang Candragrahana sendiri berarti mengamati gerhana bulan.

Acaranya diadakan di Tebing Breksi, Yogyakarta. Kami berkemah sambil belajar tentang ilmu astronomi. Saya yang pernah bercita-cita menjadi astronout sangat antusias dalam mengikuti paparan para astronom amatiran tentang hal-hal mengenai langit.

Akhirnya saya jadi tahu bagaimana melihat rasi bintang. Walaupun belum bisa membaca petanya. Dan, kenapa kadang rasi bintang bisa dilihat kadang tak terlihat. Saya juga belajar tentang istilah-istilah dalam ilmu astronomi yang saat saya tulis blog ini kemudian saya lupa ingatan.

 

Sayangnya saat gerhana terjadi langit lebih banyak ditutupi awan. Namun, kami masih sempat menyaksikan dan mengambil gambar beberapa fase gerhana bulan. Sungguh indah gerhana bulannya walau cuma micro blood moon bulan terlihat kemerah-merahan yang sayangnya tak bisa tertangkap kamera.

Salah satu hal yang paling menyenangkan saat tinggal di Yogya adalah menjadi pembelajar sejati. Banyak acara yang mendidik kita untuk belajar lebih banyak hal. Asalkan ada kemauan untuk belajar dan mencari tahu.

Saat umur saya semakin saya tua saya merasa bahwa belajar tidaklah harus dengan mengejar gelar-gelar di belakangnya atau mengikuti institusi resmi. Bukan berarti melanjutkan sekolah adalah hal yang sia-sia. Akan tetapi antusiasme kita untuk mendidik diri sendiri adalah salah satu hal yang penting agar kita bisa menggali ilmu sebanyak-banyaknya dengan cara yang semenyenangkan menurut kita.

 

 

Talk and Walk for Life

CYMERA_20161119_124128
“If you want to go quickly, go alone. If you want to go far, go together.”
African Proverb

Apa enaknya berjalan lebih dari 40 kilometer tanpa penghargaan apa pun? Tanpa medali di garis akhir?. Apa yang dicari dari berjalan jauh tanpa ada keinginan untuk meraih podium?. Jawabannya ada di dalam perjalanan itu sendiri.

Setiap orang punya alasan dan tujuan untuk menempuh perjalanan jauh. Saya sendiri mengikuti event jalan kaki lebih karena ingin bertemu dengan orang-orang. Lebih karena ingin mendengar cerita dari orang asing yang telah lebih banyak berjalan jauh. Beberapa orang yang saya temui juga menyukai berjalan daripada berlari karena mereka merasa saat berlari terasa lebih sepi dan tak ada teman. Ini hanya masalah pilihan.

Saat berjalan jauh bukannya kita akan selalu bersama dengan orang lain yang kita ajak bicara, ada saat kita ingin berjalan lebih cepat dan meninggalkan mereka, begitu juga sebaliknya. Ada saat kita masih bisa ngobrolin apa pun sambil tertatih-tatih, lain waktu cuma ingin diam. Tapi, tiap waktu punya cerita sendiri.

Mungkin begitu juga dalam hidup. Saat perjalanan baru dimulai semangat masih membara, saat sendiri dan perjalanan terasa masih jauh dari garis akhir adalah perjuangan kita melawan diri sendiri.

 

 

 

 

 

Anak Hilang

image
Source:pinerest

Seorang guru saya pernah bilang saya ini seperti anak hilang. Gak jelas mau ke mana tiba-tiba menghilang kemudian muncul lagi. Dan begitulah yang terjadi dengan kehidupan saya. Apalagi saat traveling.
Baru-baru ini saya janjian ketemuan dengan teman saya saat lagi di Jakarta. Dan Jakarta bagi saya adalah tempat asing berapa kali pun bolak-balik ke sini. Tiap kali naik angkot saya selalu bertanya sana-sini walaupun dah nanya supirnya. Takut hilang.
Kemarin saat di angkot saya ditemenin mbak-mbak yang juga bertujuan sama.
Mbak, ikut saya aja. Saya pun nurut-nurut aja. Yang sebenarnya gak bagus, kalau saya diculik mah saya yang salah ikut-ikut aja. Eh, malah dituntun pulak ama mbaknya. Diseberangin ke jalan seberangnya. Diajak nunggu tempat yang enak sampai teman saya datang. Saat pulang pun begitu, banyak yang membantu saya menemukan arah jalan pulang.
Muka saya saat di angkot emang tampang-tampang memelas.

Setahun belakangan ini pun dijalanin dengan keadaan benar-benar kayak anak hilang. Walaupun hidup di kampung halaman sendiri. Tapi, Allah emang baik ada aja caraNya menuntun saya menemukan siapa saya sebenarnya. Still on the half way sih, but I don’t mind being lost. I found every little thing on the way to put the pieces on the big picture of my life. Enjoy being a lost girl 😄❤🙌

Runaway Traveler

Suatu waktu kamu perlu menghilang untuk dicari. Siapa tahu ada yang rindu.

Kalau tak ada yang rindu, mungkin kamu memang sedang merindukan dirimu sendiri.

Setiap perjalanan pasti punya alasan, tapi tak semua alasan harus diumumkan.

Sisa-Sisa Cerita Lebaran

Setelah sembilan tahun, akhirnya bisa ramadhan bersama keluarga sebulan penuh. Biasanya puasa di kosan, lebaran di rumah orang atau lebaran di kosan. Tapi, malah merindukan lebaran di kosan sendiri.
Lebaran di rumah enak, makan enak, ketemuan teman dan keluarga tapi terlalu banyak drama.
Sesungguhnya drama-drama itu yang bikin kita makin tangguh.

*ini cuma tulisan numpang lewat*

Masa Depan

“Ingat,Pit, masa depan masih suci.”

Nasihat itu selalu dikatakan teman saya, Dian. Setiap saya meminta saran atau bertukar pikiran, diskusi hal remeh temeh, Dian selalu bilang masa depan masih suci. Jangan pernah membenci sesuatu.

Mungkin harus saya tulis agar saya percaya yang buruk sekarang kedepannya pasti akan lebih baik lagi. Ya, semua masih suci.

Warung Kehidupan

Hari ini saya menerima sebuah kabar sedih. Warung tempat saya makan dekat kosan sudah tutup. Bermula dari nama Warung Niki Echo berganti nama jadi Warung Nusantara, sudah 6 tahun menemani saya makan siang.

Tempat ini bukan sekedar warung biasa. Banyak kenangan indah dan sedih saya dan teman sekosan jalani kita ceritakan saat makan di sini.

Menunya berganti tiap tahun, tapi bagi anak Sekar Melati kami selalu dapet menu gratisan. Kue bikinan ibu, masakan rumah ibu, rujak atau apa saja yang dimasakin ibu. Bahkan ketika saya berlebaran sendiri saya pun lebaran di warung ini. Maka pemilik warung ini adalah keluarga dan sahabat baik kami sekosan.

Saya sangat menikmati sore saat makan di warung ini. Mbak Dini si pemilik warung kemudian menjadi sahabat baik saya. Saat saya makan sendiri, dia selalu menemani saya sambil mengobrol. Begitu juga anak-anaknya Adib dan Tiwi. Ketika saya datang dan saat mereka libur, mereka selalu menemani saya makan. Di warung inilah saya merasa punya keluarga lain saat merantau.

Tiwi biasanya akan memamerkan buku barunya, Adib dan bahasanya yang romantis selalu membuat saya betah berlama-lama di sini.

Mbak Dini kemudian bercerita perkembangan sekolah Tiwi dan Adib. Ngajarin saya origami, knitting (walau sampai sekarang ga bisa), diskusi parenting and relationship problems. Dan kemudian kami merangkai mimpi. Ingin ke sini dan ini itu banyak sekali.

Maka ketika menerima kabar warung ini tutup saya sungguh sedih. Berasa kehilangan rumah dan penghuninya. Walau sekarang saya jauh di Timur, saya berharap saat pulang ke Yogya saya masih bisa makan di warung mbak Dini.
Semoga mbak Dini bisa buka warung Coto Makassar dan Pisang Ijonya lagi di tempat lain, jadi kami masih bisa nostalgila.

Terima kasih soto ayamnya sudah mengisi perut saya bertahun-tahun takkan terlupakan. Dan pelajaran kehidupan di tiap obrolan saat makan.

Aku dan Surayah Pidi Baiq part 2

image

Sebulan yang lalu sebelum saya mudik, Allah mengabulkan doa saya dari bulan Mei saat saya pertama kali beli buku Surayah Pidi yang terbaru. Dilan. Bertemu kembali dengan surayah di Yogya dan buku Dilan ditandatangani.

Alhamdulillah senang banget bisa ketemu penulis nyentrik satu ini. Bener-bener bikin bahagia.

Oh mengenai Dilan, coba gitu ada cowok kayak Dilan yg jadi pacar sekaligus calon suami. Pasti romantis banget. Hihihii.

Kampung Halaman

image

Seorang teman pernah bilang, kita akan menemukan kampung halaman kita sendiri setelah kita dewasa nanti. Walau kata ayah Pidi Baiq kampung halaman sejatinya adalah kembali ke akhirat.
Dan saya memutuskan kampung halaman saya setelah dewasa adalah Yogyakarta.
Tempat lahir saya adalah Ternate. Dibesarkan berpindah-pindah pulau karena kerjaan babeh. Untuk itulah bagi saya Ternate hanya tempat untuk tinggal. Walau sebenarnya pemandangan di kota kecil ini sungguh luar biasa indah tapi hati tak nyaman dan tak terpaut di sini.
Sungguh bagi saya Ternate adalah tempat traveling yang asyik. Makanannya enak, tempatnya indah, tempat foto yg asyik. Tapi bagi Ternate mungkin saya juga adalah orang asing.

Yogya bagi saya adalah rumah hati. Tempat saya bisa menjadi diri saya sendiri. Walau saat ini raga di Ternate tapi jiwa sepenuhnya nun jauh di Yogya.

Yogya adalah harapan. Entah harapan apa yang saya pupuk di sini. Mungkin saya harus beranjak sebentar dari kota ini untuk kemudian memanen rindu kelak saat kembali secepatnya, semoga.

Ya ampun, aku jatuh cinta berkali-kali dan patah hati berkali-kali dengan Yogya.

Ini hanya edisi kangen Yogya.

image

Nine Years

Yogyakarta…

Hampir sembilan tahun saya tinggal di sini. Dan sebentar lagi harus pulang ke rumah yang bagi saya cuma rumah bangunan. Karena rumah hati dan kampung halaman kedua sepenuhnya saya bangun di kota ini. Yogyakarta.

Sedih banget sih, tapi apa daya takdir memutuskan lain.

Semoga semua kisah baik maupun buruk bakal jadi pembelajaran hidup kedepannya.

Ah, taun depan semoga bisa balik sini lagi. Aamiin

The Big C

Image

The show follows teacher Cathy Jamison – a reserved, suburban wife and mother – who is diagnosed with melanoma. The realization of this forces her to really begin to live for the first time in her adult life. At first she chooses to keep her diagnosis from her family, behaving in ways they find puzzling and increasingly bizarre. She finds new freedom to express herself. As the show progresses, Cathy allows her family and some new friends to support her as she copes with her terminal diagnosis, and finds both humor and pathos in the many idiosyncratic relationships in her life. (source : Wikipedia)

The Big C salah satu serial yang paling sering aku nonton ulang. Cuma 4 season, ada 40 episode keseluruhannya. Ceritanya si Cathy Jamison ini didiagnosa kanker. Setelah ketahuan punya penyakit ini Cathy mutusin buat ngelakuin hal-hal yang ga pernah dia lakuin dalam hidupnya. Awalnya dia gak ngasih tau keluarganya. Suami dan anaknya heran saat dia pengen bikin kolam renang di halaman rumah mereka, yang akhirnya ga jadi karena masalah birokrasi. Yang bikin sering ditonton ulang adalah adegan saat dia bungkus banyak hadiah buat anaknya Adam. Masing-masing hadiah ditulis untuk ulang tahun keberapa. Untuk christmas, untuk hadiah kelulusan dan ditaruh di gudang sewaan. Saat semua keluarganya tahu kalau Cathy kena kanker dia banyak dibantu tapi juga bermasalah sama anaknya Adam yang beranjak remaja. Apalagi saat suaminya juga kena serangan jantung dan temannya Marlene bunuh diri, Cathy pengen ngajarin anaknya menerima kematian.

Kalau kubilang ini temanya dark comedy dan drama. Banyak kisah-kisah mengharukan tentang penerimaan tapi disajikan lucu. Paling sedih saat adegan Adam lulus SMA. Ini selalu bikin berurai air mata. Kolasenya Cathy di rumah sakit juga indah, berbentuk pohon.

Quotes:

Soulmate. Not only is it a cliche, it’s the reasons millions of women are sitting at home and single.

I don’t wanna feel better. I wanna be better

We have to do this before I get fat and you get all… cancer-y. 

Sean to Cathy: No matter how repulsed by you I am, you can’t deny our biological bond

You’re the yin to my yang, the ping to my pong, the normal to my crazy. Let’s be us together. Paul 

Cathy Jamison: Life is so precious and it’s way too f*#king short. So don’t delay the happy.

Cathy Jamison: Why can’t anything ever go the way it’s supposed to?
Lee: It did. Just didn’t go the way you wanted it to.

Marlene: I think God gives us problems so we can learn to deal with them, not so he can fix us.

Cathy Jamison: And I could do chemo, but I’d just be buying a little more time and it would mean a lot of people taking care of me and it’s just not my thing. You know what makes me feel better, though, if I’m being honest? It makes me feel better to think that we’re all dying. All of us. And when you have a kid, you expect that you’ll die before they do. I mean, even though you try not to think about it, at least you hope to God you do. So if I think about it that way… hey, I’m living the dream! I’m here all year! performing at stage four. Oh, come on, you got to give it up for me a little bit. It’s kind of funny. Death comedy.

Tuhan ‘kan Selalu Tepat Waktu

Mungkin kamu akan selalu bertanya, kenapa hal ini terjadi sekarang? Kenapa tidak nanti? Atau bahkan kenapa tidak dari dulu saja. Ya karena Tuhan tahu kapan kamu siap.

Belakangan ini banyak hal yang terjadi dalam perjalanan tahun ini.  Dari berita duka, perayaan nikah, berita yang membuat patah hati. Mungkin ini adalah tahun yang terberat. Tapi bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Jadi harus meyakinkan diri bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk mengetahui semua rahasia yang tersembunyi karena sebenarnya saya sudah siap dengan segala konskuensinya dan akan ada kemudahan-kemudahan di akhir tahun ini.

Semoga Allah mengobati luka hati ini walau harus meninggalkan bekas setidaknya jangan perih lagi.

Sudahlah ini cuma celoteh orang yang sampai sekarang ga bisa tidur.